Sabtu, 25 April 2020

JURNAL 8 "KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DAN KOLOM"


JURNAL PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK 1
“KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DAN KOLOM”



DISUSUN OLEH:
NADA FITRI RAHMAN
NIM : A1C118057

DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Pd


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNVERSITAS JAMBI
2020



PERCOBAAN-8
     I.          Judul             : Kromatografi lapis tipis dan kolom
    II.       Hari, tanggal : Rabu , 29 April 2020.
 III.       Tujuan           :
Adapun tujuan dari akan dilakukannya percobaan ini , yakni:
1.         Dapat memahami teknik-teknik dasar kromatografi lapis tipis dan kolom
2.         Dapat terampil membuat pelat kromatografi lapis tipis dan kolom kromatografi
3.         Dapat memahami dalam memisahkan suatu senyawa dari campurannya dengan kromatografi lapis tipis dan memurnikannya dengan kolom․
4.         Dapat memahami dalam memisahkan pigmen tumbuhan dengan cara kromatografi kolom․
 IV.       Landasan teori
 Kromatografi kolom adalah teknik atau cara pemisahan yang telah tertentu dengan menggunakan fasa gerak dan fasa diam․ Pemisahannya tertentu (tergantung dengan gerakan yang biasa dari dua fasa itu․ Cara dari kromatografi dikelompokkan sesuai sifat fase gerak ‚  bisa zat pada maupun cair․ Prosesnya mencakup berdasar distribusi penyusun cuplikan antar fasa‚ dimana 1 fasa diam (tetap tinggal di sistem) dan lainnya fasa gerak(Sastrohamidjojo‚ 1985)․
 Menurut Tim Kimia Organik 1(2020)‚Pada kromatografi ini yang menjadi sebagai bahan penjerap adalah silika gel atau alumina terhidrasi․ Alasan digunakan bahan tersebut karna bahan itu punya keahlia menjerap senyawa organik‚ biasanya semakin polar senyawa organik maka semakin kuat bahan ini menjerap molekul air hingga kereaktifannya menurun․ Dalam penentuan Rf digunakan rumus:
                         Rf = Jarak yang ditempuh senyawa / Jarak garis di depan pelarut 

Nilai Rf dimaknakan sebagai jarak yang dilalui oleh senyawa pada permukaan fase diam dibagi dengan jarak berlalu oleh pelarut sebagai fase geraknya Semakin besar nilai Rf berarti semakin besar jarak geraknya senyawa tersebut(Handayani 2008)
Saat penotolan larutan cuplikan ke lempeng kaca pada percobaan kromatografi lapis tipis‚ dasarnya digunakan mikropipet (pipakapiler) serta bagian bawah dari lempeng kaca juga tidak lupa dicelupkan ke larutan pengulsi pada tempat bertutup(Barseoni‚ 2005)․
Pada kromatografi lapis tipis biasanya menggunakan pelat tipis yang berfungsi sebagai fasa diam dan eluennya berfungsi sebagai fasa gerak․ Fasa diam biasanya akan menahan komponen yang sama dengannya/komponen campuran juga akan ditahnnya․ Sedang fasa gerak itu akan melarutkan zat komponen campuran․ Komponen yang mudah larut dalam fasa gerak akan bergerak lebih cepat sedangkan yang tidak akan tinngal dengan fasa diam(Imam Haqiqi‚ 2008)․
    V.       Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang akan digunakan pada percobaan kali ini adalah:
5.1. Alat
5.2. Bahan
Pelat kaca kecil
Methanol
Kaca besar
Pita selotip
Gelas piala
Suspensi silica gel
Batang pengaduk
Air suling
Gelas piala         100 dan 250ml
Asam asetat
Cawan petri
Eter
Tabung reaksi kecil
Benzena
Pipa gelas kapiler
Kertas saring
Pensil lunak
Tablet yang mengandung kafein
Pipet tetes
Butiran Kristal iod
Gelas wool
C0ntoh daun                    10 lembar
Oven
Petroleum Eter (PE)
Lumpang
AIR/AQUADES
Na- Sulfat anhidrat
Suspensi Selulosa                                   
Suspensi Kalsium karbonat
Suspensi Sukrosa
Aseton

 VI.       Prosedur Kerja
A.       Kromatografi lapis tipis․

1.         Penyiapan pelat
q  Dibersihkan pelat kaca kecil dengan air dan methanol‚ dilap dengan lap ․ Kemudian dikeringkan dengan oven
q  Disusun sebanyak 5 pelat diatas kaca besar dan direkat kedua sisi dengan pita selotip
q  Disiapkan suspensi silica gel (bubur silika/slurry) dengan mencampur 5gr bahan dan 10ml methanol/air suling dalam gelas piala bertutup․ Disebar suspense diatas pelat dan diratakan atas kaca dengan 1 gerakan․ Dikeringkan pelat dalam oven dengan suhu 120⁰C sekitar 10 menit․
2.         Penyiapan bejana
q  Dibuat larutan pengembang dalam gelas piala 100ml dengan komposisi methanol;asam asetat; eter; benzene (0‚10; 1; 3; 5‚9)ml․
q  Dilapisi dinding gelas dengan kertas saring․ Ditutup gelas piala dengan cawan petri agar lingkungan dalam jadi jenuh dan pelarut mengembang
3.         Penyiapan contoh
q  Digerus dua buah tablet yang mengandung kafein dan diekstraksi dengan 5ml methanol
q  Dilarutkan 50gr kafein dalam 1ml methanol ke dalam tabung reaksi
q  Diambil cairan ekstrak obat maupun larutan zat autentik dengan menggunakan pipa gelas kapiler․ Ditotol diatas pelat TLC kecil dengan jarak 1cm dari tepi pelat
q  Dikeringkan noda sampel dan standar dengan dryer(ditiup)‚ dibubuhkan lagi sampai 3-5 kali dengan setiap kali kering․ (Diusahakan membentuk noda pekat yang kecil
4.         Pengembangan
q  Dimasukkan pelat kedalam bejana pengembang
q  Dijaga agar noda terendam dalam larutan pengembang
q  Dibiarkan sampai didapat garis pelarutnya sampai 1 cm dari tepi atas pelat
q  Diangkat pelat dari bejana‚ ditandai garis depan pelarut dengan pensil lunak dan keringkan
q  Dimasukkan pelat ke dalam gelas piala berukuran 250ml yang berisi butiran Kristal iod dan ditunggu hingga pelat terlihat noda
q  Diangkat pelat dan tandai lingkaran noda dengan pensil segera
q  Dihiting dan bandingkan semua Rf yang diperoleh

B.       Kromatografi kolom
1)        Penyiapan sampel
q  Dilumatkan 10 lembar contoh daun dan direndam 1 jam dengan campuran 90ml PE (td 60-90 ⁰C) 10 ml benzene dan 30 ml methanol․ Disaring lalu di ekstraksi 4 kali dgn air 50ml․ Dipisahkan lapisan organic ․ Dikeringkan lapisan ini dengan Na-sulfat anhidrat․
q  Disaring kembali dan dipekatkan lapisan organic dengan rotavor sampai volume cairan tinggal beberapa mL
2)        Penyiapan kolom
q  Disiapkan kolom kromatografi dengan pipet tetes
q  Disumbat bagian bawah kolom dengan gelas wool
q  Dimasukkan suspense selulosa (yang dibuat dari 0‚5 gr selulosa dalam 10 ml pelarut Petrolium eter (PE) hingga timbunannya 3-4 cm
q  Dimasukkan suspensi kalsium karbonat(1 gr CaCO3 dalam 10 ml PE) HINGGA 3-4CM
q  Dimasukkan suspensi sukrosa (2gr sukrosa dalam 10 ml PE)SETINGGI 3-4CM
q  Selama pengemasan pelarut terus-menerus di berikan hingga timbunan tetap basah/ tidak kering
q  Diletakkan guntingan kertas saring diantara dan diatas timbunan penjerap untuk menjaga permukaannya tidak terganggu oleh sampel yang akan dimasukkan
3)        Kromatografi
q  Setelah permukaan pelarut turun dimasukkan larutan sampel setinggi 1cm․
q  Jika telah mendekati larutan penjerap segara bilas bagian dalam kolom dengan pelarut campuran PE:ASETON (6:1)‚ pelarut harus terus menerus di tetesi
q  Dilihat warna pita untuk mengetahui terjadinya pemisahan
q  HASIL ‚ Pita orange bergerak paling cepat ‚kemudian pita hijau‚ pita kuning dan hijau
q  Ditampung tetesan yang keluar dari kolom dengan beberapa tabung reaksi bersih
q  Dipisahkan berdasarkan warnanya
q  Dihentikan pemberian pelarut bula semua warna telah keluar dari kolom
Berikut link youtube yang memperlihatkan percobaan ini :
1. https://youtu.be/T30r9xdsJLA
2. https://youtu.be/HenPngg7-ig


VII.       PERMASALAHAN
1)Pada Video Kromatografi Lapis tipis yang dilampirkan , mengapa perlu dilakukan proses ultrasonik setelah melakukan preparasi sampel? 
2)Pada video tersebut digunakan chamber untuk proses percobaan kromatografi lapis tipis tersebut. Bagaimana pengaruh ukuran chamber dalam percobaan kromatigrafi lapis tipis ini? 
3)Bagaimana cara mengetahui suatu eluen yang baik dari segi nilai kepolarannya terhadap noda komponen senyawa organik yang ingin dianalisis? Interaksi molekul apa yang dapat terjadi ketika terjadi pemisahan terhadap eluen yang memiliki nilai kepolaran yang baik itu, tolong dijelaskan.

4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Saya Sri Oktika Dhijah Gultom(A1C118085) akan menjawab pertanyaan nomor 2. Berpengaruh. Ukuran dari chumber ini sangat mempengaruhi laju reaksi penyerapan pelarut pada kertas saring karena ukuran chumbernya yang luas dan lebar, ada yg sedikit tinggi. Laju reaksi ini dipengaruhi luas permukaan. Semakin luas permukaan suatu zat yang direaksikan maka semakin lambat laju reaskinya dan sebaliknya. Terimakasih

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Hesti Nurmelis dng NIM A1C118090 akan menjawab pertanyaan no 3. Jadi bisa juga alumina ikut turun seperti silika. Akan tetapi itu mungkin terjadi akibat penotolon sampelnya terlalu lebar maka resolusi akan turun. Dan bisa juga tempat penotolannya salah maka akan menimbulkan bercak yang menyebar. Terimakasih.

    BalasHapus
  4. Saya lisna wiranti nim 001 akan menjawab soal nomor 1. Sinar ini dimaksudkan supaya dapat melihat secara jelas noda atau bercak sebagai hasil pada KLT yang memungkinkan melihat dengan sangat jelas bulatan noda yang terbentuk dan mudah dihitung Rf nya. Untuk itu jika sampel tidak disinari dengan sinar uv atau gelombang ultrasonic maka akan sulit menghitung Rf nya karena bulatan pada noda tidak terlihat jelas. Terimakasih.

    BalasHapus